Cagar Alam Batukahu

Letak

CA Batukahu terletak di RTK.4, dengan letak geografis 08°10′-08°23′ LS dan 115°02′-115°15′ BT. Secara administrasi, terletak di Kecamatan Penebel dan Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan serta Kecamatan Banjar dan Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Kawasan ini termasuk ke dalam SWP DAS Saba Daya dan SWP DAS Oten Sungi. CA Batukahu berada di wilayah Resort KSDA Batukahu, Seksi Konservasi Wilayah I  Balai KSDA Bali.

Status dan Luas

  • Pada masa pemerintahan Gubernur Hindia Belanda, Kelompok Hulan Goenoengbatoekaoe beserta hutan lindungnya ditetapkan sebagai kawasan hutan yang mempunyai fungsi perlindungan tanah dan air (hidrooro/ogyreserve) dengan luas 15.153,28 Ha, melalui Surat Keputusan Gubernur Hindia Belanda Nomor 28 letter B sub.a.3 dan b.1, tanggal 29 Mei 1927 dan disahkan pada 23 Februari 1934.
  • Pada 19 Januari 1959, Pejabat Kepala Daerah Tingkat I   Bali melalui Surat Keputusan Nomor 19/53/2/4 menetapkan Kelompok Hulan Gunung Batukahu menjadi Cagar Alam sebagai kawasan konservasi insitu seluas 1.524 Ha dan Kebun Raya Eka Karya sebagai kawasan konservasi eksitu seluas 45 Ha.
  • Pada 29 November 1974, Menteri Pertanian mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 716/Kpts/Um/11/1974 tentang Penunjukan Areal Hutan Batukahu Seluas 1.762,8 Ha yang Terletak di Kabupaten Tabanan Propinsi Bali Sebagai Cagar Alam, diberi nama Cagar Alam Batukahu I, Batukahu II dan  Batukahu III.
  • Berdasarkan Peta Tata Batas CA Batukahu yang disahkah oleh Direktur Jenderal Kehutanan pada 3 Desember  1979,  disebutkan bahwa CA Batukahu terdiri dari Gunung Tapak memiliki luas 810,40  Ha dengan  ketinggian  1.807 m dpl,  Gunung Pohen memiliki luas 388,20  Ha dengan ketinggian 2.069 mdpl, dan Gunung Lesung dengan luas 564,20 Ha serta ketinggian 1.860 mdpl.

Batas Kawasan

Adapun batas kawasan CA Batukahu adalah sebagai berikut:

–  Utara : TWA Danau Buyan-Danau Tamblingan

–  Timur :  Desa Candikuning, Kec. Baturiti, Kab. Tabanan

–  Selatan :  Hutan Lindung Gunung Batukaru

–  Barat :  Desa Gesing dan Desa Munduk, Kec. Banjar, Kab. Buleleng

Topografi

Keadaan topografi kawasan bervariasi mulai datar, landai, miring, agak curam, curam, dan terjal sampai dengan sangat curam. Kawasan ini terdiri dari tiga Kelompok Hutan, yaitu Batukahu I (Bukit Tapak), Batukahu II (Bukit Pohen) dan Batukahu III (Bukit Lesong). Berdasarkan peta tata batas CA Batukahu yang disahkan oleh Direktur Jenderal Kehutanan tanggal 3 Desember 1979, dicantumkan bahwa Gunung Lesung memiliki ketinggian 1.860  m dpl, Gunung Tapak 1.807 m dpl, dan Gunung Pohen 2.069 m dpl.

Geologi

Berdasarkan RTRW Kabupaten Tabanan Tahun 2012 dan Rancangan RTRW Kabupaten Buleleng Tahun 2012, CA Batukahu memiliki formasi batuan gunung api dari kerucut Subresen Gunung Pohen, Gunung Sengayang, dan Gunung Lesung.

CA Batukahu secara umum terdiri dari batuan andesit, basal, tephra halus/kasar dan recent vulkanik akibat kegiatan atau aktiftas dari hasil letusan gunung apipurba Batukahu, Lesung dan Pawon pada jaman kuarter tengah. Berdasarkan struktur stratigrafi, urutan terjadinya diawali oleh endapan batuan gunung berapi Buyan-Beratan dan Batur purba (Qba). Lapisan atasnya merupakan hasil endapan vulkan purba (Qbb), yaitu tuff dan endapan Buyan-Beratan dan Batur purba. Lapisan termuda terdiri dari Qve dari hasil aktifitas vulkan maupun hasil endapannya. Lithologi kawasan terdiri dari endapan breksi, andesit, endapan lahr dan luff, yaitu tersebar pada formasi Qba, endapan lava umumnya mendominasi bagian Baral dan bagian Selatan. Bagian Selatan dan Timur didominasi oleh endapan lahar dari formasi Qbb, sedangkan daerah aluvium (Qal) umumnya terdiri dari material campuran lava halus sampai boulder.

Tanah

Keadaan tanah di kawasan CA Batukahu dapat digambarkan sebagai berikut:

PH tanah di Cagar Alam Batukahu berkisar antara 5,1-5,7 dengan kelembaban tanah berkisar antara 47-59%. Hal ini disebabkan oleh daerah pegunungan yang lembab dan dataran tinggi yang menyebabkan curah hujan tinggi sehingga terjadi pelepasan senyawa garam dasar yang mudah larut yang mengandung ion Ca, Mg, dan K sebagai sumber ion OH. Oleh karena pelepasan senyawa tersebut sehingga terjadi pengurangan jumlah basa yang menyebabkan tanah yang lembab dan terletak di dataran tinggi menjadi lebih asam. Tanah yang lembab didominasi oleh lempung silikat dan humus yang banyak asam karena permukaan luar lempung silikat banyak terdapat sumber ion H yaitu AlOH dan SiOH dan golongan karboksil dan fenol pada koloida humus.

lklim

Berdasarkan klasifikasi iklim oleh Wladimir Koppen dan Rudolf Geiger dalam sistem klasifikasi Koppen-Geiger, CA Batukahu termasuk ke dalam kelompok A, yaitu iklim tropika basah. Lebih lengkapnya, termasuk ke dalam iklim hutan hujan tropis (Af), yaitu dicirikan dengan curah hujan lebih dari 60 mm selama 12 bulan.

Suhu udara berkisar antara 11,54-20°C. Bulan-bulan suhu rendah terjadi pada bulan Juli, Agustus, September berkisar antara 11,54°C sampai 13,21°C, suhu maksimum tertinggi terjadi pada bulan Mei, Nopember dan Desember sebesar 23,15-24°C.

Kelembaban udara yang diukur adalah kelembaban udara Nisbi (Relative  Humidity  =  RH).

Kelembaban udara secara makro cukup tinggi sebesar 91,98%, kisarannya 81,61-97,56% RH tertinggi terjadi pada bulan Pebruari sebesar 97,56% dan terendah pada bulan Oktober sebesar 81,61%. Curah hujan di kawasan ini cukup tinggi dan bulan basah terjadi pada bulan Januari, Pebruari, April dan Desember, sedangkan bulan keringnya pada bulan Agustus dan September. Curah hujan rata-rata pertahun sebesar 236,69 mm pertahun.

Hidrologi

Di kawasan CA Batukahu, terdapat beberapa sumber mata air dan aliran sungai. Sungai yang dapat dijumpai bersifat ephemeral, yaitu sungai yang ada airnya saat musim hujan dan pada saat musim kemarau tidak ada airnya. Beberapa sungai merupakan pemasok air ke danau, yaitu Buyan, Tamblingan, dan Beratan. Di dalam CA Batukahu juga ditemukan beberapa sumber mata air yang dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga oleh masyarakat sekitar, yaitu di Gunung Lesung dan Gunung Tapak.

Flora

Kawasan CA Batukahu memiliki tegakan alam cemara geseng (Casuarina junghuhniana) dan cemara pandak (Dacrycarpus imbricatus). Cemara geseng merupakan spesies asli Indonesia, keberadaan tegakan alam di CA Batukahu semakin memperkuat posisi CA yang ekosistemnya harus senantiasa dijaga.

Jenis flora lainnya antara lain: Purnajiwa (Euchresta horsfieldi), Dapdap (Erythrina lithosperma), Plendo (Brassaiopsis sp.), Nasi-nasi (Symplocos fasciculata), Yeh-yeh (Saurauia pendula), Klampok (Syzygium densiflorum), Markisa (Passiflora edulis), Kasa-kasa/kapulaga (Amomum compactum), Bacem/begonia (Begonia spp.), Base/sirih (Piper betle), Rumput lateng (Urtica grandidentata), Lateng pohon (Laportea spp.), Sengene/bunga matahari (Helianthus annuus), Lempeni (Ardisia humilis), Sembung (Blumea balsamifera), Bratawali (Tinospora crispa), Pandan (Pandanus spp.),  Uyah-uyah (Ficus quercifolia), Cabai jawa (Piper retrofractum), Kopi (Coffea sp.), Cermai (Phyllanthus acidus), Kedukduk/keduduk (Melastoma malabathricum), Terung belanda (Cyphomandra betacea), Pokak/takokak (Solanum torvum), Klerak (Sapindus rarak), Salam (Syzygium  polyanthum), Lemasih (Hibiscus rosa-sinensis), Porang (Amorphophallus oncophyllus), Paku sayur (Oiplazium esculentum), Kaliandra (Calliandra callothyrus), Dadem/ara (Ficus racemosa; Ficus fistulosa), Jenggot resi (Usnea barbata), Puyang (Zingiber zerumbet), Gunggung/stroberi (Fragaria sp.), Seming (Pamelia spp.), Paku pohon/lemputu (Cyathea latrebosa), Paku kidang (Dicksonia blumei), Lempuna (Cyathea contaminans), Paku sarang burung (Asplenium nidus), Paku pidpid (Nephrolepis sp.), Palem nyabah (Pinanga arinasaensis), Palem peji (Pinanga coronata), Tahlan (Oysoxylum spp.), Sampat (Meliosma ferruginea), Segang (Polyosma integrifolia), Anggrek (Vanda tricolor), Tiying (Bambusa sp.), Kepelan (Manglietia glauca), Ambengan (Imperata cylindrica), Rotan (Calamus sp.), Udu (Litsea velutina), Kerasi (Lantana camara), Juwet (Syzygium cumint),  Hea (Ficus sp.), Bunut (Ficus benjamina), Belantih (Homalanthus giganteus), Samblung/daun ekor naga (Raphidophora pinnata), Paku (Selaginella sp.), Sente (Alocasia macrorrhizos), Lenggung (Trema orientalis), Kedaluman (Cyclea barbata), Kepasilan/benalu (Scurrula atropurpurea), Jelunut (Commersonia bartramia), dll.

Flora

Kijang (Muntiacus muntjak), Sugem (Ducula lacernulata), cekakak jawa (Halcyon cyanoventris), cekakak sungai (Todirhamphus chloris), raja udang biru (Alcedo  coerulescens), Srigunting (Dicrurus sp.), Kadal (Mabouya sp.), Lalat hijau (Lucilia sericata), Tawon merah (Ordo Hymenoptera), Lebah (Apis sp.), Cerukcuk (Pycnonotus goiavier), Prenjak (Ordo Passeriformes), kupu-kupu (Ordo Lepidoptera), Sriti (Collocalia esculenta), Tupai (Tupaia javanica), Sesap madu (Fam. Nectariniidae), Landak (Hystrix sp.), Ayam hutan (Gallus sp.), Jangkrik (Fam. Gryllidae).

Aksesibilitas

Kawasan CA Batukahu dapat dicapai dengan mudah melalui jalur darat, dari Denpasar dapat  ditempuh dengan jarak 55 km, dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam, sedangkan dari kota Singaraja dengan jarak tempuh 37 Km dengan waktu tempuh sekitar 40 menit perjalanan.

Fasilitas

Terdapat Kantor Resort KSDA dan Pos Jaga/Pondok Kerja

Sosial Budaya

Keberadaan CA Batukahu yang lokasinya berdekatan dengan desa sekitar, baik secara langsung maupun tidak langsung telah terjadi interaksi antar masyarakat sekitar dengan kawasan tersebut, baik ditinjau dari aspek sosial budaya dan aspek lingkungannya. Budaya Bali dan agama Hindu mempunyai hubungan yang sangat erat sekali, pelaksanaan ajaran Hindu banyak dikemas dengan budaya Bali. Hal ini tampak antara lain dalam sarana dan prasarana ritual, seni tubuh, seni suara, tari keagamaan dan lain-lainnya.

Adat dan kebiasaan yang khas tidak ada dan penduduk masing-masing desa terdiri dari berbagai agama yang sudah terintegrasi dan berbaur satu dengan yang lainnya. Di samping itu juga tumbuh peraturan-peraturan tradisional setempat berupa awig-awig Desa Adat maupun Banjar Adat yang formal diterapkan dari generasi ke generasi. Kehidupan beragama masyarakat di sekitar kawasan CagarAlam Batukau tampak rukun, yang terdiri dari Agama Hindu, Islam, Kristen dan Bud ha.

Sebagaimana diketahui bahwa penduduk sekitar kawasan cagar alam mayoritas beragama Hindu. Dalam ajaran Hindu sendiri telah melekat paham Tri Hita Karana yang mengatur keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam lingkungannya. Masyarakat Hindu juga memandang bahwa keberadaan kawasan hutan adalah suci dan keramat, karena itulah hampir pada setiap kawasan hutan di daerah Bali pasti ada bangunan pura, baik pura yang berfungsi sebagai Dang Kahyangan maupun pura yang scope-nya lebih kecil atau berupa pelinggih-pelinggih yang sangat diyakini kesuciannya