Kunjungan Menhut ke Danau Buyan

Posted on by admin

Pada kunjungan kerja ke Propinsi Bali tanggal 27 April 2012, Menhut didampingi oleh Direktur Jenderal PHKA akan mengunjungi TWA Danau Buyan-Danau Tamblingan (Danau Buyan) dan salah satu lembaga konservasi yaitu Bali Zoo (CV. Bali Harmoni).

KUNJUNGAN KE TWA DANAU BUYAN-DANAU TAMBLINGAN

Ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No.:144/Kpts-II/1996 tgl 4 April 1996, dengan luas 1.336,50 Ha (tidak termasuk Danau Buyan). Berdasarkan Keputusan Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehutanan Propinsi Bali No.: 140/Kwl-5/1997 tanggal 22 Januari 1997, luas TWA Danau Buyan – Danau Tamblingan direvisi menjadi 1.703 Ha, terdiri dari 1.491,16 Ha kawasan hutan dan 301,84 Ha perairan Danau Buyan.

Menteri Kehutanan (Menhut), menilai bahwa meluapnya Danau Buyan di Kabupaten Buleleng, Bali, diakibatkan pendangkalan dasar danau.

“Dasar danau dangkal ditambah dengan erosi yang menjadi penyebab bencana,” katanya saat melakukan kunjungan kerja ke Danau Buyan, Kabupaten Buleleng, Jumat.

Pada beberapa tahun terakhir, Permukaan Danau Buyan dan Danau Tamblingan terus meluap. Bahkan, luapan Danau Buyan dua pekan lalu mengakibatkan belasan rumah di Desa Adat Pancasari, Kecamatan Sukasada, hingga kini masih terendam air dengan ketinggian sekitar 1,5 meter. Bahkan, 35 keluarga sampai sekarang tinggal di pengungsian.

Dalam sambutannya, Menhut mengingatkan, masyarakat agar tidak menanam lahan di sekitar Danau Buyan dan Danau Tamblingan dengan tanaman holtikultura saja, melainkan juga konbinasi dengan tanaman keras.

Kawasan pertanian sekitar TWA Danau Buyan-Danau Tamblingan pada awalnya didominasi tanaman keras (kopi), tapi dalam dua dekade terakhir sudah berubah menjadi tanaman musiman, yang secara ekonomi memang menguntungkan bagi masyarakat dalam jangka pendek.

Dalam kunjungan kerja ke Danau Buyan, Menhut memberikan bantuan sosial berupa uang tunai kepada kelompok masyarakat di tiga dusun adat, masing-masing sebesar Rp50 juta dalam bentuk KBR (Kebun bibit Rakyat) ditambah beberapa bibit pohon serta peralatan sekolah kepada pelajar di sekitar areal terdampak.

Menhut juga melakukan pelepasliaran beberapa jenis satwa liar (burung), di antaranya Elang ular (Spilornis cheela), burung jelling (Aplonis minor), burung ketungkling (Picnonotus bimaculatus), Tekukur (Streptopelia chinensis) dan burung pelatuk (Picoides macei). Satwa-satwa tersebut merupakan jenis residen di TWA Danau Buyan-Danau Tamblingan. Dalam kesempatan itu, Menhut juga melakukan penebaran ribuan ekor bibit ikan nila dan penanaman pohon di tepi Danau Buyan.

KUNJUNGAN KE BALI ZOO

Bali Zoo mendapatkan ijin sebagai lembaga konservasi pada tanggal 15 Maret 2001 melalui Keputusan Menhut No. SK. 68/Kpts-II/2001. Melalui keputusan Bupati Gianyar No.503/027/BPPT/2010, luas areal Bali Zoo yang semula 2 ha ditambah menjadi 7 ha.

Koleksi fauna Bali Zoo terdiri dari 3 kelas berbeda, yaitu aves (98 species dilindungi dan 26 species tidak dilindungi), mamalia (64 species dilindungi dan 30 species tidak dilindungi), dan reptil (25 species dilindungi dan 20 species tidak dilindungi).

Bali Zoo sebagai taman satwa dibangun untuk sarana rekreasi dan koleksi flora dan fauna liar yang juga berfungsi sebagai upaya konservasi media ek-situ, media ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kegiatan penelitian bagi pelajar dan mahasiswa serta pecinta flora fauna.

 

This entry was posted in Berita Terbaru. Bookmark the permalink.