Cagar Alam Batukahu

Profil Kawasan
Potensi Kawasan
Peta Kawasan

Pada masa pemerintahan Gubernur Hindia Belanda, Kelompok Hulan Goenoengbatoekaoe beserta hutan lindungnya ditetapkan sebagai kawasan hutan yang mempunyai fungsi perlindungan tanah dan air (hidroorology reserve) dengan luas 15.153,28 Ha, melalui Surat Keputusan Gubernur Hindia Belanda Nomor 28 letter B sub.a.3 dan b.1, tanggal 29 Mei 1927 dan disahkan pada 23 Februari 1934.
 
Pada 19 Januari 1959, Pejabat Kepala Daerah Tingkat I Bali melalui Surat Keputusan Nomor 19/53/2/4 menetapkan Kelompok Hulan Gunung Batukahu menjadi Cagar Alam sebagai kawasan konservasi insitu seluas 1.524 Ha dan Kebun Raya Eka Karya sebagai kawasan konservasi eksitu seluas 45 Ha.
 
Pada 29 November 1974, Menteri Pertanian mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 716/Kpts/Um/11/1974 tentang Penunjukan Areal Hutan Batukahu Seluas 1.762,8 Ha yang Terletak di Kabupaten Tabanan Propinsi Bali Sebagai Cagar Alam, diberi nama Cagar Alam Batukahu I, Batukahu II dan Batukahu III.
 
Berdasarkan Peta Tata Batas CA Batukahu yang disahkah oleh Direktur Jenderal Kehutanan pada 3 Desember  1979,  disebutkan bahwa CA Batukahu terdiri dari Gunung Tapak memiliki luas 810,40  Ha dengan  ketinggian  1.807 m dpl,  Gunung Pohen memiliki luas 388,20  Ha dengan ketinggian 2.069 m dpl, dan Gunung Lesung dengan luas 564,20 Ha serta ketinggian 1.860mdpl.
 
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.2847/Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 16 April 2014 tentang Penetapan Kawasan Hutan pada Kelompok Hutan Gunung Batukau (RTK.4) seluas 15.102,90 Ha di Kabupaten Buleleng, Kabupaten Badung dan Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Luas kawasan CA Batukahu 1.773,80 Hektar.

Flora
Kawasan CA Batukahu memiliki tegakan alam cemara geseng (Casuarina junghuhniana) dan cemara pandak (Dacrycarpus imbricatus). Cemara geseng merupakan spesies asli Indonesia, keberadaan tegakan alam di CA Batukahu semakin memperkuat posisi CA yang ekosistemnya harus senantiasadijaga.
Jenis flora lainnya antara lain: Purnajiwa (Euchresta horsfieldit), Dapdap (Erythrina lithosperma), Plendo (Brassaiopsis sp.),  Nasi-nasi (Symplocos fasciculata), Yeh-yeh (Saurauia pendula), Klampok (Syzygium densiflorum), Markisa (Passiflora edulis), Kasa-kasa/kapulaga (Amomum compactum), Bacem/begonia (Begonia spp.),  Base/sirih (Piper betle), Rumput lateng (Urtica grandidentata), Lateng pohon (Laportea spp.), Sengene/bunga matahari (Helianthus annuus), Lempeni (Ardisia humilis), Sembung (Blumea balsamifera), Bratawali (Tinospora crispa), Pandan (Pandanus spp.),  Uyah-uyah (Ficus quercifolia), Cabai jawa (Piper retrofractum), Kopi (Coffea sp.), Cermai (Phyllanthus acidus), Kedukduk/keduduk (Melastoma malabathricum), Terung belanda (Cyphomandra betacea), Pokak/takokak (Solanum torvum), Klerak (Sapindus rarak), Salam (Syzygium polyanthum),  Lemasih (Hibiscus rosa-sinensis), Porang (Amorphophallus oncophyllus), Paku sayur (Oiplazium esculentum), Kaliandra (Calliandra callothyrus), Dadem/ara (Ficus racemosa; Ficus fistulosa), Jenggot resi (Usnea barbata), Puyang (Zingiber zerumbet), Gunggung/stroberi (Fragaria sp.), Seming (Pometia spp.), Paku pohon/lemputu (Cyathea latrebosa), Paku kidang (Dicksonia blumei), Lempuna (Cyathea contaminans), Paku sarang burung (Asplenium nidus), Paku pidpid (Nephrolepis sp.), Palem nyabah (Pinanga arinasaensis), Palem peji (Pinanga coronata), Tahlan (Oysoxylum spp.), Sampat (Meliosma ferruginea), Segang (Polyosma integrifolia), Anggrek (Vanda tricolor), Tiying (Bambusa sp.), Kepelan (Manglietia glauca), Ambengan (Imperata cylindrica), Rotan (Calamus sp.), Udu (Litsea velutina), Kerasi (Lantana camara), Juwet (Syzygium cumint), Hea (Ficus sp.), Bunut (Ficus benjamina), Belantih (Homalanthus giganteus), Samblung/daun ekor naga (Raphidophora pinnata), Paku (Selaginella sp.), Sente (Alocasia macrorrhizos), Lenggung (Trema orientalis), Kedaluman (Cyclea barbata), Kepasilan/benalu (Scurrula atropurpurea), Jelunut (Commersonia bartramia), dll.
Fauna
Kijang (Muntiacus munljak), Sugem (Ducula lacernulata), cekakak jawa (Halcyon cyanoventris), cekakak  sungai  (Todirhamphus chloris), raja  udang biru  (Alcedo  coerulescens), Srigunting (Dicrurus sp.), Kadal (Mabouya sp.),  Lalat hijau (Lucilia sericata), Tawon merah (Ordo Hymenoptera), Lebah (Apis sp.), Cerukcuk (Pycnonotus goiavier), Prenjak (Ordo Passeriformes), kupu-kupu (Ordo Lepidoptera), Sriti (Collocalia esculenta), Tupai (Tupaia javanica), Sesap madu (Fam. Nectariniidae), Landak (Hystrix sp.), Ayam hutan (Gallus sp.), Jangkrik (Fam. Gryllidae).